PROSEDUR AUDIT DIVIDEN


Prosedur Audit Dividen

Bagaimana prosedur audit atas dividen ?


Prosedur audit dividen adalah sebagai berikut :

Periksa tanggal-tanggal dividen

Tanggal menurut buku Dividen harus dibandingkan dengan tanggal pembayaran dividen menurut keputusan rapat Dewan Direksi/Komisaris dan tanggal dalam buku besar serta buku harian Kas/Bank dan catatan dalam buku tambahan pemegang saham. Terdapat tiga tanggal yang perlu dicatat yaitu tanggal dividen diumumkan, tanggal buku tambahan pesero ditutup dan tanggal pembayaran dividen.

Periksa jumlah dividen

Besar dividen dalam Rp yang diumumkan harus diverifikasi dengan cara mengambil jumlah saham yang beredar pada tanggal penutupan menurut buku besar dikalikan dengan tarif dividen per saham lalu dibandingkan dengan jumlah pembayaran dividen menurut buku tambahan.

Periksa otorisasi pembayaran dividen

Supaya sah, dividen harus mendapat persetujuan dari Dewan Direksi/Komisaris yang biasanya dicatat dalam risalah rapat. Dalam hal dinyatakan pailit, dimana terjadi pembayaran dividen yang mengakibatkan berkurangnya hak para kreditur, maka hal tersebut harus dipertanggungjawabkan oleh Dewan Direksi/Komisaris.

Pada umumnya pembayaran dividen dianggap tidak sah apabila :

  • Dividen dibayar tidak sesuai dengan undang-undang.
  • Dividen mengurangi Modal saham.
  • Dividen dibayar bertentangan dengan ketentuan yang berlaku.
  • Dividen untuk golongan saham tertentu dibayar dengan akibat adanya pelanggaran hak golongan saham lainnya.

Tentukan sumber pembayaran dividen

Hal ini perlu ditentukan supaya dapat meyakinkan ketepatan pembayaran dan pembukuannya. Status laba yang ditahan, sebelum dan sesudah dividen diumumkan, harus diperiksa apakah tidak menimbulkan defisit atau melampaui jumlah yang telah ditentukan. Stock dividen harus dipindahkan dari laba yang ditahan ke Modal yang disetor dengan nilai kurs yang berlaku, bila besamya tidak lebih dari 25 % dari saham yang beredar. Seandainya stock dividen begitu besar, yang dipindahkan harus nilai nominal atau nilai yang ditetapkan.

Verifikasi pembayaran dividen

Cek-cek pembayaran dividen harus dibandingkan dengan catatan dalam buku tambahan pemegang saham, baik jumlahnya, tanggalnya maupun namanya. Cek tersebut harus dihitung untuk bahan rekonsiliasi saldo Bank. Cek dividen yang belum diuangkan dan belum diambil oleh yang bersangkutan harus disetorkan lagi ke Bank dan jumlahnya dibukukan sebagai utang lancar.

Tentukan besar dividen yang belum dapat dibayar

Dividen kumulatif atas saham preferen yang belum dapat dibayar tidak boleh dimasukkan sebagai utang dalam neraca. Hal ini cukup dicantumkan sebagai footnote saja. Kadang-kadang ada juga perusahaan yang membentuk suatu cadangan berupa penyisihan saldo laba untuk pembayaran dividen.


Semoga penjelasan mengenai prosedur audit deviden ini bisa menambah wawasan teman-teman semua :)